TB Paru masih menjadi masalah kesehatan yang perlu di selesaikan di Kabupaten Gresik. Angka temuan kasus  pasien TB Paru dan TB MDR masih rendah.Tahun 2014 dan 2015 di temukan 18 pasien TB MDR.  Angka temuan pasien TB MDR relatif masih kecil karena  di sebabkan  belum ada fasilitas kesehatan yang menangani TB Resisten obat. Pasien yang di suspek TB Resisten obat harus di rujuk ke RS Dr Sutomo Surabaya.

Dari 18 pasien TB MDR yang di temukan di Kabupaten Gresik tahun 2014, 1 pasien menolak di obati (5,5%), 5 pasien drop out (27,7%), 10 pasien sembuh (55,5%) dan 2 pasien meninggal dunia. Tahun 2015 di temukan 18 pasien TB MDR, 8 pasien drop out (44,4%),7 pasien sembuh (38,8%)dan 3 pasien meninggal dunia (16,6%).

Melihat kondisi ini dr Endang Puspitowati Sp.THT-KL selaku direktur RSUD Ibnu Sina Gresik berniat membuka pelayanan TB MDR dan membuat inovasi BATAS PETIR (obati sampai tuntas penderita TB MDR).  Upaya ini di harapkan untuk meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka drop out pasien TB MDR.

Inovasi  BATAS PETIR ini mengobati pasien TB MDR secara holistik. Pengobatan pasien TB MDR mencakup aspek Biologi,Psikologis, Sosial dan Spritual. Selain itu di libatkan sinergi antara RSUD Ibnu sina, Dinas kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah dan komunitas pasien TB MDR (PETIR)

Setelah di lakukan inovasi BATAS PETIR, jumlah CDR pasien TB MDR di Kabupaten Gresik meningkat drastis.Tahun 2016 ditemukan  21 pasien TB MDR dan tahun 2017 di temukan 45 pasien. Angka pasien TB MDR yang menolak di obati (initial loss) tahun 2014  5,5%  turun menjadi 0% di tahun 2016 dan 2,2% di tahun 2017. Angka drop out pasien TB MDR yang di obati turun menjadi 14,2% di tahun 2016 dan 2,2% di tahun 2017. 4 pasien sudah dinyatakan sembuh dari TB MDR, Sisanya 54 pasien masih menjalankan pengobatan dan hasilnya sudah negative.

 

 

  1. ANALISIS MASALAH
  2. Apa masalah yang dihadapi sebelum dilaksanakannya inovasi?

Uraikan situasi yang ada sebelum inovasi pelayanan publik ini dimulai.

Tuberkulosis (TB) masih merupakan salah satu masalah kesehatan baik di indonesia maupun di dunia. Penyakit ini banyak menyerang golongan umur produktif antara 15-45 tahun. World Health organization (WHO) memperkirakan terdapat 8 juta kasus baru dan 2 juta kematian karena TB setiap tahunnya. Indonesia menempati urutan ke 2 dengan jumlah kasus tuberculosis terbanyak di bawah India.Insiden kasus baru TB Paru di Indonesia mencapai 403/100.000 penduduk. Estimasi berdasarkan  jumlah penduduk saat ini menunjukan setiap tahun terdapat 1 juta kasus baru TB Paru. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari 27 negara dengan beban TB MDR (multiple drug resisten) terberat di dunia. Di perkirakan setiap tahunnya terdapat 6.800 kasus baru TB MDR.

Hasil analisis kesehatan yang dilakukan di kabupaten Gresik menunjukkan bahwa TB Paru masih menjadi masalah kesehatan yang perlu di selesaikan. Menurut data yang diambil dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, angka temuan kasus Case Detection Rate (CDR) pasien TB Paru dan TB MDR masih rendah.Tahun 2014 di temukan 1.473 pasien TB Paru dan 18 pasien TB MDR (1.22%). Pada tahun 2015 di temukan 18 kasus TB MDR (1,09%) dari 1.658 pasien TB paru yang terdeteksi. Angka temuan pasien TB MDR di Kabupaten Gresik relatif masih kecil karena  di sebabkan  belum ada fasilitas kesehatan yang menangani TB Resisten obat. Pasien yang di suspek TB Resisten obat harus di rujuk ke RS Dr Sutomo Surabaya. Sehingga banyak pasien yang menolak di rujuk karena alasan akses pelayanan yang jauh.

Dari 18 pasien TB MDR yang di temukan di Kabupaten Gresik tahun 2014, 1 pasien menolak di obati (5,5%), 5 pasien drop out (27,7%), 10 pasien sembuh (55,5%) dan 2 pasien meninggal dunia. Tahun 2015 di temukan 18 pasien TB MDR, 8 pasien drop out (44,4%),7 pasien sembuh (38,8%)dan 3 pasien meninggal dunia (16,6%).

Angka kesembuhan pasien TB MDR di Kabupaten Gresik masih rendah dan angka putus berobat tinggi disebabkan  :

  1. Pengobatan TB MDR memerlukan waktu yang lama 20-24 bulan,
  2. Obat TB MDR mengakibatkan efek samping yang berat bagi pasien.
  3. Paduan terapi pasien TB MDR terdiri dari 7 macam obat (13-20 butir/hari)
  4. Akses pelayanan  yang jauh, sehingga pasien kesulitan untuk datang tiap hari (terkait masalah finansial transport)
  5. Kurangnya dukungan psikososial terutama dari keluarga
  6. Masih banyak stigma negatif dari masarakat
  7. Banyak pasien TB MDR adalah laki-laki yang bekerja sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, sehingga kesulitan untuk berobat tiap hari di rumah sakit atau puskesmas.
  8. Fasilitas kesehatan yang menangani pasien TB MDR masih bekerja sendiri-sendiri.
  1. PENDEKATAN STRATEGIS
  2. Siapa saja yang telah mengusulkan pemecahannya dan bagaimana inovasi ini telah memecahkan masalah tersebut?

Ringkaslah tentang apa dan bagaimana inovasi pelayanan publik ini telah memecahkan masalah.

Fenomena kasus TB MDR di Kabupaten Gresik seperti  gunung es. Pasien yang di temukan memang masih sedikit, tetapi tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus TB MDR yang belum terungkap.  Case detection rate yang rendah di sebabkan karena  pasien yang di curigai menderita TB resisten obat menolak di periksa. Pasien menolak dikarenakan  fasilitas pelayanan TB MDR ada di RSUD dr. Sutomo Surabaya. Melihat kondisi ini dr Endang Puspitowati Sp.THT-KL selaku direktur RSUD Ibnu Sina Gresik berniat membuka pelayanan TB MDR.  Upaya ini di harapkan untuk mendekatkan akses pelayanan dan meringankan beban pasien TB MDR. Untuk melayani pasien TB MDR ,RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Tim Ahli Klinis
  2. Dokter dan Perawat pelaksana harian
  3. Fasilitas penanganan efek samping
  4. Rawat Inap TB MDR
  5. Rawat jalan TB MDR
  6. Instalasi farmasi
  7. Laboratorium penunjang

Langkah strategis yang di lakukan yaitu membentuk tim TB MDR Berdasarkan SK Dir no 800.5/067/437.76/KP/2015. Tim ini terdiri dari dr.Wiwik Kurnia Illahi Sp.P, dr. Hilman Mayantana, Muntini Skep.Ners, Helen Yuniar Veronika Amd.Kep, Susanti SAA dan tim ahli klinis lainya. Tim Ahli klinis ini terdiri dari beberapa disiplin ilmu seperti dokter spesialis paru, penyakit dalam,THT, Kedokteran Jiwa, Saraf, anak,Jantung dan pembuluh darah. Pada bulan desember 2015 tim ini di latih menejemen terpadu mengenai pengendalian TB resisten obat (MTPTRO). Tujuanyan adalah bisa menangani pengobatan dan efek samping TB MDR dengan baik. Selain itu di siapkan Standart Operasional Prosedur (SOP) penanganan efek samping obat.

Setelah Tim TB MDR terbentuk, menejemen RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik menyiapkan fasilitas rawat jalan, rawat inap,  Instalasi farmasi, Laboratorium penunjang TB MDR. Poliklinik rawat jalan pasien TB MDR di desain dengan sangat baik dan nyaman. Alur pelayanan pasien mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, mendapat resep dan minum obat ada di poliklinik TB MDR. Upaya inibertujuan untuk  mengurangi resiko penularan transmisi silang ke pasien lain. Dengan pelayanan terpadu ini juga di harapkan pasien merasa homogen dan mengurangi stigma negatif. Instalasi farmasi TB MDR di buat menyatu di poliklinik TB MDR terpisah dari instalasi farmasi rawat jalan.

RSUD Ibnu Sina menyiapkan 2 ruangan rawat inap isolasi TB MDR. Ruangan ini ada 4 bed yang bisa di gunakan pasien TB MDR yang mengalami efek samping berat. Ruang isolasi ini sudah memenuhi syarat PPI TB (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TB).

Untuk laboratorium penunjang disiapkan alat tes cepat molekuler (TCM) dan tenaga analis medis. Alat tes cepat molekuler ini di gunakan untuk menegakkan diagnose TB Resisten Rifampicin. Ruang laboratorium harus memenuhi standar yang di tetapkan Dinas Kesehatan Propinsi. Untuk keamanan petugas laboratorium, RSUD Ibnu Sina membeli alat bio safety cabinet.

Menajemen RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik bertekad tidak hanya sebatas menemukan dan mendiagnosa pasien TB MDR. Tetapi RSUD Ibnu sina harus bisa mengobati pasien TB MDR sampai sembuh. RSUD Ibnu sina di harapkan untuk menjadi rumah sakit rujukan regional TB MDR di Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro.

Dr. Endang Puspitowati Sp.THT-KL  dan Tim TB MDR  menyadari bahwa tidak cukup dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman membuat pasien TB MDR sembuh. Untuk meningkatkan angka kesembuhan, menurunkan initial loss dan menurunkan pasien drop out di cetuskanlah inovasi BATAS PETIR (Obati Tuntas Penderita TB MDR).

Dalam Inovasi ini RS Ibnu Sina Gresik bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah Kabupaten Gresik dalam mengobati pasien TB MDR. Selain itu di bentuk komunitas pasien TB MDR. Komunitas ini di namakan PETIR (Pejuang TB Resisten). Komunitas ini di harapkan menjadi kelompok dukungan sebaya bagi pasien yang menjalani pengobatan TB MDR.

Ke empat komponen ini melalui kegiatan-kegiatanya bertujuan untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien TB MDR di Kabupaten Gresik.

  1. Dalam hal apa inovasi kreatif dan inovatif?

Jelaskan bahwa inovasi pelayanan publik yang diajukan ini bersifat unik dan mampu menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru dan berbeda dari metode sebelumnya serta berhasil diimplementasikan

Inovasi  BATAS PETIR ini bisa meningkatkan angka keberhasilan pengobatan dan menurunkan jumlah pasien putus berobat, karena program ini mengobati pasien TB MDR secara holistik. Pengobatan pasien TB MDR mencakup aspek Biologi,Psikologis, Sosial dan Spritual. Selain itu kami melibatkan sinergi antara RSUD Ibnu sina, Dinas kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah dan komunitas pasien TB MDR (PETIR).

Dari aspek biologi Tim ahli Klinis memberikan paduan terapi obat MDR dan penanganan efek samping. Dalam penanganan aspek biologis kita bersinergi dengan Puskesmas di Kabupaten Gresik.. Untuk meningkatkan psikologis pasien di libatkan psikolog dan dokter Spesialis jiwa. Dari aspek sosial melalui peran serta komunitas PETIR, membuat pasien TB MDR tidak merasa sendiri. Dengan kegiatan dukungan sebaya mereka bahu membahu dalam menjalani pengobatan. Mereka saling menguatkan jika mengalami efek samping dan keputus asaan dalam menjalani pengobatan. Kami juga memperhatikan aspek Spritual, melalui peran serta Aisyiyah dan MUI yang memberikan tausiyah tentang kesabaran dalam menjalani pengobatan.

Selain itu akses pelayanan pasien TB MDR di RSUD Ibnu Sina mulai dari pendaftaran, pemeriksaan , laboratorium dan mendapatkan obat dilakukan di satu tempat yaitu klinik TB MDR.  Hal ini memberikan kenyamanan pasien TB MDR dalam menjalani pengobatan.

Inovasi ini sejalan dengan nawa cita yang kelima meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

  1. PELAKSANAAN DAN PENERAPAN
  2. Bagaimana pelaksanaan inovasi?

Uraikan unsur-unsur rencana aksi yang telah dikembangkan untuk melaksanakan inovasi pelayanan publik ini, termasuk perkembangan dan langkah-langkah kunci, kegiatan-kegiatan utama serta kronologinya

Untuk menjalankan inovasi BATAS PETIR rencana aksi yang di lakukan antara lain:

  1. Menyiapkan sarana dan prasarana poliklinik TB MDR

            RSUD Ibnu Sina Gresik menyiapkan poliklinik rawat jalan, ruang isolasi rawat inap, Laboratorium dan apotik TB MDR.  Selain itu di bentuk Tim TB MDR yang bertugas melayani pasien TB Resisten Obat. Tanggal 1 juni 2016 poliklinik TB MDR sudah bisa melayani pasien.

  1. Membentuk jejaring internal dan eksternal    

             Penemuan kasus baru TB  MDR bisa berasal dari RS Ibnu Sina sendiri atau dari fasilitas kesehatan  lainnya. Untuk meningkatkan angka CDR TB  MDR di bentuklah jejaring  internal dan eksternal. Jejaring internal berasal dari seluruh instalasi rawat inap, rawat jalan dan instalasi gawat darurat di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik. Sedangkan dari jejaring eksternal terdiri dari Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik Kesehatan dan dokter praktek mandiri di wilayah Kabupaten Gresik.

Bulan mei 2016 di adakan sosialisasi klinik TB MDR di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik. Tujuan dari kegiatan ini untuk memperkenalkan bahwa RSUD Ibnu Sina akan membuka layanan poliklinik TB MDR. Selain itu di bentuklah jejaring internal dan eksternal dalam penanganan TB Resisten obat. Untuk lebih meningkatkan komunikasi yang efektif di buatlah group komunitas lewat whats app.

  1. Rapat kordinasi

            Inovasi ini melibatkan RSUD Ibnu Sina, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah. Dalam pertemuan ini di sepakati sinergi dalam pelayanan TB Resisten Obat. Seiring perjalanan poliklinik TB MDR, di bentuklah komunitas pasien TB MDR yang di beri nama Pejuang TB Resisten (PETIR).

  1. Kegiatan sinergi pelayanan TB MDR
  2. Penemuan kasus TB MDR

RSUD Ibnu Sina dan Puskesmas sebagai ujung tombak penemuan kasus TB MDR. Alat TCM untuk mendiagnosa TB MDR di siapkan di RSUD Ibnu Sina dan 7 puskesmas di Kabupaten Gresik. Untuk mempermudah  masyarakat di buat zona pelayanan pemeriksaan TCM

Aisyiyah Kabupaten Gresik membentuk kader-kader TB. Kader- kader ini menjaring orang yang batuk lama tidak sembuh-sembuh. Jika di temukan orang yang batuk lama, di anjurkan periksa ke RS atau Puskesmas.

PETIR menjaring suspek TB MDR dari keluarganya masing-masing. Setiap anggota kelurga yang punya kontak erat dengan pasien TB MDR di harapkan di periksa dahaknya. Di harapkan bisa di temukan sumber penularan di keluarga dan memutus rantai penularan.

Untuk mempermudah pelayanan pasien  dari luar Kabupaten Gresik, Sampel dahak bisa di kirim lewat paket. Pasien tidak perlu datang ke RS, sehingga mengurangi  resiko  penularan ke orang lain. Hasil pemeriksaan TCM di kirim via pos ke faskes pengirim.

  1. Inisiasi pengobatan TB MDR

Pasien yang di diagnosa TB MDR  menjalani pengobatan di RS Ibnu Sina Gresik. Sebelum menjalani pengobatan, pasien akan di inisiasi terlebih dahulu oleh TAK. Serangkaian pemeriksaan laboratorium dan radiologi di lakukan untuk melihat status awal kesehatan mereka. Tim TB MDR mengedukasi pasien tentang penyakitnya, cara pengobatanya dan efek samping yang terjadi. Setelah siap TAK merapatkan tentang paduan terapi TB MDR dan  memutuskan apakah pasien di terapi rawat jalan atau rawat inap.

Aisyiyah kabupaten Gresik juga ikut berperan dalam inisiasi pengobatan TB MDR. Melalui Kyai/Ustadzah memberikan motivasi agama untuk pasien TB MDR. Pasien di ajarkan untuk sabar dan ikhlas dalam menjalani pengobatan yang lama.

Kelompok dukungan sebaya di berikan PETIR untuk mendukung pengobatan TB MDR. Mereka memotivasi pasien supaya kuat menjalani pengobatan. Motivasi dari mereka bisa mengena ke hati pasien TB MDR karena mereka juga telah mengalami. Mereka mengajarkan cara mengatasi efek samping obat TB MDR.

  1. Pengobatan TB MDR

Pasien TB MDR menjalani pengobatan di RSUD Ibnu Sina Gresik kurang lebih 1-2 minggu. Untuk mempermudah akses pelayanan selanjutnya mereka di rujuk ke Puskesmas satelit. Setiap 1 bulan sekali pasien di wajibkan kontrol ke RS. Pasien suport dari Aisyah mendampingi pasien yang minum obat. Mereka membantu petugas kesehatan sebagai pengawas minum obat.

 

LAMPIRAN RENCANA AKSI

Rencana aksi yang telah diunggah :Berkas

  1. Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan?

Sebutkan siapa saja yang telah berkontribusi untuk desain dan/atau pelaksanaan inovasi pelayanan publik ini

Komponen yang terlibat dalam inovasi BATAS PETIR ini antara lain :

  1. RSUD Ibnu Sina Gresik sebagai inisiator sekaligus faskes yang melayani TB MDR. Ide awal inovasi obati tuntas penderita TB Resisten dari Direktur RSUD Ibnu Sina Gresik. RSUD Ibnu Sina Gresik juga membentuk Tim TB MDR yang menjadi ujung tombak pelayanan TB MDR.
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dengan Puskesmas satelitnya mempunyai andil yang besar dalam penanganan TB MDR. Untuk mendekatkan pelayanan TB MDR pasien di pindah ke Puskesmas. Selain itu Puskesmas juga secara aktif menemukan pasien pasien TB MDR.
  3. LSM Aisyiyah Kabupaten Gresik dengan pasien suportnya menjadi pendamping dan pengawas minum obat pasien TB MDR. Aisyiyah juga memberikan bantuan uang dan sembako senilai 500 ribu rupiah tiap bulannya. Bantuan ini sangat membantu bagi pasien TB MDR dalam menjalani pengobatan.
  4. KomunitasPETIR banyak membantu dalam pelayanan TB MDR. Dengan kelompok dukungan sebaya dan kegiatan- kegiatanya membuat pasien TB MDR tidak merasa sendiri. Anggota PETIR berkumpul 2 bulan sekali di RSUD Ibnu Sina Gresik.
  5. MUI memberikan support lewat tausyiyah kesabaran dalam menjalankan pengobatan. Lewat media agama para kyai dari MUI memberikan semangat kepada pasien TB MDR untuk sembuh.
  6. Dinas Perikanan Kabupaten Gresik memberikan pelatihan berternak lele pada lahan yang sempit pada pertemuan komunitas PETIR.
  7. Sumber daya apa saja yang digunakan untuk inovasi dan bagaimana sumber daya tersebut dimobilisasi?

Sebutkan biaya untuk sumber daya keuangan, teknis, dan manusia yang berkaitan dengan inovasi pelayanan publik ini

Sumber daya yang di gunakan untuk inovasi BATAS PETIR ini adalah:

  1. Sumber daya manusia

Sumber daya manusia yang terlibat dalam inovasi BATAS PETIR antara lain:

RSUD IBNU SINA di poliklinik TB MDR terdapat 5 pegawai yang menangani pasien. Satu dokter pelaksana, dua perawat, satu asisten apoteker dan satu petugas rekam medis.Pelayanan TB MDR ini di sokong oleh Tim Ahli Klinis dan tim ad hoc. Tim ini di ketuai dr wiwik kurnia illahi SpP. Tim ini terdiri dari :

  1. 3 dokter Spesialis paru
  2. 1 dokter Spesialis THT
  3. 1 dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
  4. 1 dokter Spesialis penyakit dalam
  5. 1 dokter spesialis saraf
  6. 1 dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah
  7. 1 dokter Spesialis anak
  8. 1 dokter Spesialis radiologi
  9. 1 dokter Spesialis Obstetri dan Gynecologi
  10. 1 dokter Spesialis Radiologi

Tim Ahli Klinis ini bertugas untuk memberikan paduan terapi TB MDR dan mengobati jika ada efek samping obat yang terjadi.Di laboratorium ada 1 dokter Spesialis Patologi Klinik dan satu petugas analis yang menjalankan alat TCM.

DINAS KESEHATAN di setiap puskesmas satelit ada dokter dan pemegang program TB yang melayani pasien TB MDR.

AISYIYAH Kabupaten Gresik terdapat 5 pasien suport yang mendampingi pasien TB MDR. Satu pasien suport bisa mendampingi 5-6 pasien TB MDR.

Komunitas PETIR Pak Nazar fanani dan Pak Rofi 2 pasien TB MDR yang sudah masuk fase lanjutan. Beliau berdua yang menjadi educator bagi pasien TB MDR yang baru menjalani pengobatan

  1. Sumber daya alat, sarana dan prasarana
  1. Laboratorium :

          - Ruang administrasi

          - Alat Tes Cepat Molekuler

          - Bio Safety cabinet

  1. Poliklinik TB MDR:

          - Ruang Pendaftaran

          - Ruang Tindakan

          - Ruang tunggu pasien

          - Ruang administrasi dan obat

          - Gazebo : tempat minum obat pasien TB MDR

          - Sputum both : tempat dahak pasien TB MDR

  1. Ruang Rawat Inap TB MDR

         - 2 ruang isolasi TB MDR yang terdiri dari 4 bed. Ruang isolasi ini sudah memenuhi standart PPI TB.

  1. Sumber daya keuangan

Untuk mendukung pelayanan poliklinik TB MDR di perlukan dana dari anggaran mandiri RSUD Ibnu Sina Gresik sebesar Rp.900.000.000.  Untuk kegiatan PETIR setiap 2 bulan sekali mendapat bantuan dari RSUD sebesar Rp. 2.000.000.

  1. Apa saja keluaran (output) yang paling berhasil dari pelaksanaan inovasi?

Sebutkan paling banyak lima keluaran konkret yang mendukung keberhasilan inovasi pelayanan publik ini

Kasus TB MDR di Kabupaten Gresik setelah 20 bulan inovasi BATAS PETIR

Tahun

Jumlah pasien TB MDR

Initial loss

Drop Out

Sembuh

Gagal

Meninggal

Masih dalam pengobatan

2016

21

0 (0%)

3 (14,2%)

4

0

1 (4,7%)

14

2017

45

1 (2,2%)

1 (2,2%)

0

0

3(6,6%)

40

  1. Setelah di lakukan inovasi BATAS PETIR, jumlah case detection rate pasien TB MDR di Kabupaten Gresik meningkat drastis.Tahun 2016 ditemukan  21 pasien TB MDR dan tahun 2017 di temukan 45 pasien. Semakin banyak pasien yang di temukan dan di obati berarti semakin menurunkan resiko penularan TB MDR di Kabupaten Gresik.
  2. Angka pasien TB MDR yang menolak di obati (initial loss) tahun 2014 5,5 % turun menjadi 0 % di tahun 2016 dan 2,2 % di tahun 2017.
  3. Angka drop out pasien TB MDR yang di obati tahun 2014  27,7 %, tahun 2015 44,4 % setelah adanya inovasi BATAS PETIR turun menjadi 14,2% di tahun 2016 dan 2,2% di tahun 2017.
  4. Tahun 2016 sudah ada 4 pasien yang sudah sembuh dari TB MDR, Sisanya 54 pasien masih menjalankan pengobatan dan hasilnya sudah konversi/negative.
  5. Terbentuknya pelayanan poliklinik TB MDR di RSUD Ibnu Sina Gresik yang terpisah dari poli lain, Alur pelayanan dan SOP pelayanan TB MDR.  Pelayanan TB MDR di RSUD Ibnu Sina satu pintu, Pasien mulai di daftar sampai mendapat obat di poliklinik TB MDR. Kecuali untuk pemeriksaan foto Thorax pasien masih harus di kirim ke ruang radiologi. Untuk mengurangi resiko penularan di buatkan standar operasional prosedur transfer pasien TB Paru. Pasien wajib menggunakan masker bedah. Petugas menggunakan masker N 95. Pasien di ingatkan tentang etika batuk. Tidak boleh meludah sembarangan dan jika batuk harus di tutup.
  1. Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi inovasi?

Uraikan bagaimana pelaksanaan inovasi pelayanan publik ini dipantau dan dievaluasi

Pencatatan dan pelaporan merupakan komponen penting dalam pelayanan TB Resisten Obat. Kedua hal tersebut menjadi sumber informasi untuk di olah, di analisa dan di evaluasi sebagai bahan dalam pengambilan keputusan. Untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan dan capaian kinerja pelayanan inovasi BATAS PETIR di lakukan beberapa kegiatan yaitu :

  1. Pencatatan secara manual

Pencatatan manual di perlukan sebagai data rekam medis yang dapat di pertanggung jawabkan. Berikut ini beberapa pencatatan formulir yang di kerjakan di poliklinik TB MDR:

  1. Formulir data dasar : Formulir data dasar pasien TB MDR sebelum memulai pengobatan.
  2. Formulir Tim Ahli Klinis (TAK) :  Formulir yang berisi paduan terapi yang di berikan tim ahli klinis.
  3. TB 01 MDR : Kartu pengobatan pasien TB Resisten Obat.
  4. TB 03 MDR : Daftar register pasien TB MDR yang berobat di poliklinik TB MDR
  5. TB 04 MDR : Register laboratorium TB Resisten Obat yang berisi pasien yang di periksa Tec Cepat Molekuler.
  6. TB 06 MDR : Register pasien terduga TB Resisten Obat
  7. Pencatatan secara elektronik

Pencatatan dan pelaporan secara elektronik menggunakan software eTB menager. Software e-TB Menager merupakan sistem berbasis web yang dapat di gunakan untuk melakukan pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi. Dengan software tersebut memungkinkan semua unit pengguna atau user mengetauhi data terkini yang berkaitan dengan pelayanan TB MDR.

  1. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi pelayanan TB Resisten Obat dan inovasi BATAS PETIR di lakukan setiap tri wulan. Ketua Tim TAK dan tim TB MDR rapat tentang perkembangan pasien TB MDR. Hasil dari monitoring dan evaluasi dilaporkan ke direktur RSUD Ibnu Sina Gresik.

  1. Apa saja kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi dan bagaimana kendala tersebut dapat diatasi?

Uraikan masalah utama yang dihadapi selama pelaksanaan inovasi pelayanan publik ini beserta cara penanggulangan dan penyelesaiannya

Kendala utama dan solusi dari inovasi BATAS PETIR ini adalah:

  1. Dari sisi pasien
  2. Efek samping

Pengobatan TB MDR membutuhkan waktu lama, banyak obat. Efek samping pengobatan bisa muncul dari yang ringan sampai berat. Hampir 50 % pasien TB MDR yang drop out karena masalah efek samping. Untuk mengatasi efek samping  sudah di bentuk Tim Ahli Klinis dan Tim Ad Hoc yang terdiri beberapa disiplin ilmu. Kegiatan komunitas dukungan sebaya yang di gagas PETIR juga di harapkan bisa membantu pasien TB MDR dalam mengatasi efek samping. Pasien yang sudah bisa mengatasi efek samping memberikan solusi atau cara untuk lebih kuat dalam menghadapi pengobatan.

  1. Ekonomi

Banyak penderita TB MDR adalah laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga. Karena berobat tiap hari dan efek samping penderita TB MDR tidak bisa bekerja. Untuk meringankan beban ekonomi LSM Aisyiyah Gresik memberikan bantuan suport sebesar Rp. 500.000,- setiap bulan. RSUD Ibnu Sina bersama PETIR mengadakan kegiatan pelatihan ketrampilan. Kegiatan ini di harapkan bisa dijadikan bekal bagi mereka ketika sudah sembuh. Salah satu kegiatanya yaitu pelatihan budidaya berternak lele di lahan sempit oleh Dinas Perikanan Kabupaten Gresik. Saat ini PETIR mencoba membudidayakan lele 2 tandon di RSUD Ibnu Sina Gresik. Kalau hasilnya bagus akan di tularkan ke anggota PETIR lainya.

  1. Domisili

Pasien TB MDR RSUD Ibnu Sina Gresik berasal dari Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro. Pasien mengeluh jika harus tiap hari ke rumah sakit. RSUD Ibnu Sina dan LSM Aisyiyah sedang menggagas rumah singgah untuk pasien TB MDR yang rawat jalan.

  1. Dari sisi petugas pemberi layanan kesehatan.

koordinasi pemberian pelayanan belum maksimal, masih terkesan berjalan sendiri-sendiri. Kedepanya pertemuaan monitoring dan evaluasi di ikuti semua komponen yang terlibat.

  1. DAMPAK SEBELUM DAN SESUDAH
  2. Apa saja manfaat utama yang dihasilkan oleh inovasi?

Uraikan dampak dari inovasi pelayanan publik ini, berikan beberapa pembuktian /data yang menunjukkan dampak/manfaat dari inovasi pelayanan publik ini

Manfaat utama dari inovasi ini yang paling di rasakan masyarakat Kabupaten Gresik yaitu sekarang untuk mendapatkan pelayanan TB Resisten Obat tidak perlu lagi ke RSUD dr Sutomo Surabaya. Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler sudah ada di RSUD Ibnu Sina Gresik dan sebagian Puskesmas di Kabupaten Gresik. Pasien yang di diagnose TB MDR bisa berobat di RSUD Ibnu Sina Gresik.Terbukti dengan semakin dekatnya akses pelayanan berbanding lurus dengan banyaknya suspek TB MDR yang di periksa TCM. Tahun 2016 suspek TB MDR yang di periksa  TCM sejumlah 301 dan tahun 2017 ada 1200 pasien yang diperiksa TCM. Tahun 2016 di dapatkan 28 pasien yang positip MDR  dan tahun 2017  ada 87 pasien yang  hasil TCM nya positif TB MDR (termasuk dari kabupaten lamongan, tuban dan bojonegoro).

Sinergi antara  RSUD Ibnu Sina Gresik, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah Kabupaten Gresik dan Komunitas PETIR membuat pelayanan TB Resisten Obat menjadi lebih baik. Hal ini di buktikan dengan meningkatnya angka temuan pasien TB MDR, Menurunya angka pasien yamg menolak di obati dan pasien yang putus berobat. Jumlah pasien yang sudah sembuh ada 4 pasien dan 54 pasien yang sudah konversi hasil kultur dahaknya menjadi negative.

Pelayanan pasien TB MDR yang terpadu di Poliklinik TB MDR membuat pasien merasa nyaman dalam menjalani pengobatan. Pasien tidak perlu antri dalam pendaftaran ataupun antri dalam mengambil resep. Pasien merasa homogen dan stigma negative terhadap mereka menjadi berkurang. Selain itu dengan pelayanan yang terpadu bisa mengurangi intereaksi pasien TB MDR dengan pasien lainya. Sehingga resiko penularan TB MDR dapat di minimalkan.

 

  1. Apa bedanya sebelum dan sesudah inovasi dilaksanakan?

Uraikan perbedaan sebelum dan sesudah inovasi pelayanan publik ini dilakukan

Perbedaan pelayanan TB MDR di RSUD Ibnu Sina Gresik sebelum dan sesudah inovasi BATAS PETIR:

  1. Sebelum Inovasi pelayanan TB Resisten obat di RSUD  dr. Sutomo Surabaya. Setelah inovasi pelayanan lebih dekat di RSUD Ibnu Sina Gresik.
  2. Ruang poliklinik TB MDR sebelum inovasi bergabung dengan poliklinik rawat jalan lain. Setelah adanya inovasi poliklinik TB MDR terpisah dengan poliklinik lain. Poliklinik TB MDR di lengkapi dengan ruang administrasi, ruang periksa, ruang tunggu, gazebo untuk minum obat dan sputum both tempat pasien mengeluarkan dahak.
  3. Pelayananpasien TB MDR sebelum inovasi antri dan tidak terpadu. Setelah inovasi pelayanan lebih cepat karena pasien mulai pendaftaran sampai mendapat obat ada di poliklinik TB MDR.
  4. Sebelum inovasi pelayanan konseling hanya petugas kesehatan. Setelah adanya inovasi pelayanan konseling lebih komprehensif, selain petugas kesehatan konseling juga di berikan anggota komunitas PETIR dan Pasien suport dari Aisyiyah.
  5. Sebelum Inovasi intereaksi sesama pasien kurang karena pasien merasa rendah diri dan masih ada stigma negatif terhadap penyakit TB MDR. Setelah adanya inovasi BATAS PETIR intereaksi sesama pasien lebih tinggi karena pasien lebih percaya diri karena homogen. Sehingga tercipta hubungan yang saling mendukung dan menguatkan dalam menjalani pengobatan.
  6. Setelah inovasi BATAS PETIR angka temuan pasien TB MDR meningkat pesat, jumlah pasien yang menolak di obati dan pasien yang putus berobat menurun.
  7. Angka pasien yang sembuh dan yang sudah konversi meningkat setelah adanya inovasi ini.
  8. Apa saja dari kegiatan inovasi tersebut yang sejalan dengan satu atau lebih dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?

Jelaskan kegiatan inovasi tersebut selaras dengan pencapaian salah satu atau lebih Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Inovasi BATAS PETIR ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) nomer 3 yaitu menjamin kehidupan masyarakat yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur. Penyakit TB MDR ini banyak menyerang laki-laki dalam usia produktif. Karena sakit mereka kehilangan produktifitasnya dan tidak bisa memenuhi kewajibanya sebagai tulang punggung keluarga. Lewat inovasi BATAS PETIR ini penderita TB MDR bisa sembuh dari sakitnya dan bisa bekerja kembali. 

Dalam kegiatan dukungan sebaya yang di lakukan komunitas PETIR juga di isi dengan pelatihan pelatihan. Contoh pelatihan yang pernah di laksanakan yaitu pelatihan berternak lele di lahan yang sempit oleh dinas perikanan Kabupaten Gresik. Saat ini komunitas PETIR mencoba membudi dayakan lele di lahan tandon air. Jika budidaya ini berhasil rencananya akan di kembangkan di setiap pasien TB MDR yang berminat. Sehingga di harapkan budidaya ini bisa membantu perekonomian pasien TB MDR.

  1. KEBERLANJUTAN
  2. Apa saja pembelajaran yang dapat dipetik?

Uraikan pengalaman umum yang diperoleh dalam melaksanakan inovasi pelayanan publik ini, pembelajarannya, dan rekomendasi untuk masa depan

Keberhasilan inovasi BATAS PETIR dalam meningkatkan angka temuan pasien TB MDR, menurunkan initial loss dan drop out tidak lepas dari dukungan kuat dari menajemen RSUD Ibnu sina Gresik dan Dinas kesehatan Kabupaten Gresik.  Dari pencatatan yang baik kasus TB MDR, Tim TB MDR menemukan fakta- fakta yang menarik. Ada beberapa daerah yang di temukan pasien TB MDR berasal dari satu desa dan satu gang.  Fakta ini mendorong kami dari tim TB MDR untuk lebih aktif menemukan pasien TB MDR di daerah tersebut.

Untuk membuat Gresik bebas TB, perlu langkah yang kongkrit dalam penemuan kasus. Kita tidak bisa hanya pasif menunggu pasien yang datang. Tapi kita harus aktif keluar untuk menemukan kasus TB MDR. Sinergi antara RSUD Ibnu Sina Gresik, Dinas kesehatan Kabupaten Gresik, LSM Aisyiyah dan PETIR akan di kembangkan ke kegiatan pemberantasan TB. Dari pencatatan pasien TB MDR di petakan daerah yang mempunyai basis yang tinggi TB MDR. Selanjutnya di adakan kegiatan menskrening penduduk di sana yang di curigai sakit TB Paru.  Dari yang di suspek TB Paru akan di periksakan dahaknya dengan alat TCM. Jika sudah terdiagnosa TB Paru akan di obati.

Selain menemukan dan mengobati, juga masyarakat di edukasi tentang etika batuk dan larangan meludah sembarangan. Perilaku hidup bersih dan sehat bisa mencegah masyarakat dari sakit. Kuman TBC akan mati jika terkena sinar matahari. Ventilasi rumah harus baik sehingga sinar matahari dan udara bisa masuk ke rumah.

Kegiatan seperti ini bila di kembangkan di setiap Puskesmas maka target Indonesia bebas TB pada tahun 2035 akan tercapai.

  1. Apakah inovasi pelayanan publik ini berkelanjutan dan direplikasi?

Uraikan bagaimana inovasi pelayanan publik ini sedang dilanjutkan, jelaskan apakah inovasi ini sedang direplikasi (transfer of knowledge) atau didiseminasi untuk seluruh pelayanan publik di tingkat instansi, daerah, nasional dan/atau internasional, dan jelaskan bagaimana inovasi pelayanan publik ini dapat direplikasi

Inovasi BATAS PETIR ini bukan inovasi yang sesaat. Pada tanggal 3-5 Desember 2017 direktur RSUD Ibnu Sina Gresik menandatangani deklarasi dukungan terhadap menajemen pengendalian TB Resisten Obat di depan menteri kesehatan di Jakarta. Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor HK. 02.03/I/0363/2015 RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik di tunjuk sebagai rumah sakit rujukan regional TB MDR untuk wilayah kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro.

Pada bulan Oktober 2017 RS Haji Surabaya mengadakan study banding pelayanan TB MDR di RSUD Ibnu Sina Gresik. RS Haji Surabaya mencoba mereplikasi keberhasilan pelayanan TB MDR di RSUD Ibnu Sina Gresik.

 

Video Batas Petir