Dalam upaya pengelolaan limbah medis infeksius, RSUD Ibnu SinaKab. Gresik memiliki mesin incinerator yang telah mendapatkan izin pengolahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK.793/Menlhkl/Setjen/PLB.3/10/2016. Penilaian untuk memperoleh izin pengolahan tersebut dilaksanakan langsung oleh Tim Dirjen Pengolahan Sampah, Limbah dan B3 KLHK  pada tanggal 2 Juni 2016. Tata cara penilaian merujuk pada Peatauran Menteri Lingkungan Hidup No. 18 Tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengolahan Limbah B3 dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup.

Jumlah limbah medis infeksius yang dihasilkan RSUD Ibnu Sina Kab. Gresik mencapai ±200 kg per hari. Sumber limbah medis infeksius tersebut berasal dari RawatInap, RawatJalan, IBS, Laboratorium, Radiologi, IKF, Farmasidan Laundry. Berbagai jenis dan karakteristik limbah medis infeksius sepertis puit, kantong urin, botol infus yang terkontaminasi, underpad hingga obat kadaluarsa dikumpulkan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah medis infeksius untuk selanjutnya dibakar di Incinerator.

Dengan kapasitas pembakaran Incinerator yang mencapai 100 kg/jam atau 700 kg/hari, Incinerator yang dimiliki RSUD Ibnu Sina Kab. Gresik,alat ini memiliki dua ruang bakar dan dilengkapi dengan wet scrubber. Limbah medis infeksius dibakar dalam ruang bakar 1 dengan suhu lebih dari 850oC yang dapat menghilangkan sifat infesksius dari limbah tersebut. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran limbah mediskemudian dibakar kembali di dalam ruang bakar 2 dengan suhu lebih dari 1000 oC untuk menghilangkan gas-gas berbahaya. Selanjutnya partikel-partikel yang terbawa aliran gas di tangkap oleh air yang disemburkan oleh wet scrubber. Air dari buangan dariwet scrubber kemudian dialirkan ke IPAL untuk pengolaha lebih lanjut. Dengan demikian emisi gas buang yang dikeluarkan melalui cerobong incinerator dan air buangan proses pembakaran tetap aman bagi lingkungan. (IPL&Pemasaran)

Admin, 2018-11-27 | Posted in